Selasa, 18 Februari 2014

OPTIMALISASI POTENSI E-COMMERCE PADA LAYANAN PERPUSTAKAAN

Oleh : Supriyadi
Pendahuluan
Dalam gelombang peradaban umat manusia, menurut Alvin Tofler dalam Ocha (2011) ummat manusia dibagi dalam tiga era. Pertama disebut sebagai era pertanian (agraris) yang terjadi antara tahun 8000 SM-1700 Masehi, dimana pada masa ini sebagian besar masyarakat bergerak di bidang pertanian.dan pertanian dijadikan komoditas utamanya. Kedua adalah era industri yang terjadi antara tahun 1700-1970 M pada tahun ini disebut dengan masyarkat industri, dimana kondisi masyarakatnya pada era ini segala sesuatu yang terkait dengan industri menjadi hal yang diprioritaskan, ciri-ciri masyarakat pada fase ini di tandai dengan peralihan tenaga manusia dengan tenaga mesin, dan yang ketiga adalah era informasin yang terjadi antara tahun 1979-2000 M.  suatu masyarakat yang menempatkan informasi sebagai kebutuhan utamanya atau disebut dengan masyarakat informasi

Mobilisasi informasi pada era yang ketiga tersebut berjalan sangat cepat dan menyebabkan efisiensi sangat tinggi, mobilitas manusia dan barang semakin meningkat, industri mekanik berubah menjadi industri program, ditemukannya teknologi informasi dan data prosessing, dan era ini menurut penulis masih berlangsung sampai saat ini.

Dalam perkembangannya teknologi informasi saat ini sudah masuk kesegala sektor, tidak terkecuali perpustakaan. Hadirnya teknologi informasi di perpustakaan telah banyak membawa perubahan, baik mulai dari pegelolaan, penyimpanan, pemeliharaan sampai pada layanan atau dari yang semula menggunakan sistem manual sampai pada sistem digital.
Masyarakat pada saat ini di tuntut untuk selalu menguasai informasi sebagai instrumen atau alat untuk bersaing dalam berbagai hal,“siapa yang menguasai informasi dia akan menjadi penentu baik dalam hal pengambilan kebijakan ataupun dalam hal yang lainnya” dan siapa yang buta tentang informasi maka dia akan tertinggal.

Kehadiran perpustakaan pada era informasi seperti sekarang ini merupakan suatu keniscayaan, sebab mengacu pada fungsi utama perpustakaan yang pada dasarnya adalah mengumpulkan, menyimpan atau memilihara dan menyebarkan informasi tersebut, oleh karenanya para penggiat informasi yang dalam hal ini kita sebut pustakawan dituntut untuk selalu aktif dalam mengembangkan potensinya, agar kebutuhan informasi penggunanya dapat terpenuhi dengan maksimal.

Layanan Perpustakaan
Salah satu fungsi perpustakaan adalah memberikan layanan informasi kepada penggunanya, dalam hal layanan ini penulis menyerdehanakan atau membaginya menjadi dua model layanan diantaranya adalah model layanan offline dan model layanan online.

Adapun model layanan off line yang dimaksud adalah layanan yang dilakukan atau diberikan dimana perpustakaan itu berada dan biasanya pengguna datang keperpustakaan untuk mencari informasi tertentu, kemudian pustakawan melayaninya atau pustakawan yang mendatangi dimana pengguna berada seperti layanan perpustakaan keliling, sedangkan model layanan online adalah layanan yang diberikan perpustakaan kepada pengguna tanpa harus mendatangi perpustakaan akan tetapi informasi yang dibutuhkan dapat diakses dari tempat dimana pengguna berada dan layanan ini hanya bisa dilakukan oleh perpustakaan digital.

Dalam konteks perpustakaan di Indonesia, baik perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan umum, layanan online yang diberikan baru hanya sebatas catalog yang di online kan, bukan konten dari informasi yang dibutuhkan sehingga pengguna tetap harus mendatangi perpustakaan. Di perpustakaan Perguruan Tinggi pun juga demikian, kalau pun ada hanya beberapa informasi yang ditampilkan dan sangat jarang sekali kita menemukan perpustakaan yang menampilkan konten informasinya secara full tex.
Melihat dinamika kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan teknologi yang akhir-akhir ini semakin canggih hendaknya perpustakaan harus mampu memberikan kemudahan kepada pengguna, mulai dari kemudahan dalam akses sampai pada soal kelengkapan informasi yang ditampilkan.

Ketika informasi menjadi komoditas dalam masyarakat, maka nilai informasi akan semakin tinggi, oleh karenanya perpustakaan sebagai penyedia informasi seharusnya mampu mengemas informasinya agar mempunyai nilai ekonomi. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar layanan perpustakaan mempunyai nilai ekonomi yaitu dengan mengoptimalkan potensi e-commerce dalam memberikan layanan informasi.

Layanan e-commerce Informasi
e-commerce atau electronic commerce merupakan salah satu bentuk layanan yang berkembang pesat dalam dunia internet. Penggunaan e-commerce dapat menguntungkan banyak pihak, baik konsumen maupun produsen dan penjual (retailer).

Bagi konsumen, penggunaan e-commerce dapat mempersingkat waktu belanja. Harga barang yang dijual melalui e-commerce  biasanya lebih murah daripada  harga di toko, karena jalur distribusi barang dari produsen kepenjual lebih singkat dibandingkan dengan toko konvensional.

Online shopping memberikan banyak kemudahan dan kelebihan dibandingkan dengan cara belanja konvensional. Selain waktu belanja lebih singkat, di internet tersedia berbagai macam barang yang dijual secara lengkap. Informasi mengenai barang tersebut juga tersedia, sehingga walaupun tidak membelinya secara online, seseorang dapat memperoleh  informasi  yang diperlukan untuk memilih produk yang akan dibeli (Rufaida: 2007).

E-commerce dapat diterapkan dalam kegiatan bisnis perpustakaan. Purbo (2005) dalam Rufaida (2007) menyatakan bahwa transaksi pada e-commerce bukan hanya transaksi barang dan uang, tetapi juga transaksi informasi, pengetahuan, dan jasa. Dalam hal ini perpustakaan dapat memanfaatkan e-commerce untuk mengkomersialkan layanan perpustakaan seperti peminjaman antarperpustakaan (interlibrary loan), penelusuran terpasang (online), layanan referensi, bibliografi, salinan bahan, dan jasa kesiagaan informasi.

Transaksi tersebut bukan tidak mungkin dapat memberikan nilai tambah bagi perpustakaan. Selain sebagai sarana promosi perpustakaan, transaksi juga menghasilkan keuntungan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kinerja petugas perpustakaan dan pustakawan.

Oppenheim (2004) mengatakan bahwa sejak informasi menjadi kunci sukses suatu bisnis, dan para manajer mau membayar ketika membutuhkannya. Oleh karenanya penggiat informasi saat ini mempunyai peran yang sangat besar dalam mengembangkan potensinya di dunia bisnis informasi.

Model bisnis informasi yang dimaksud disini tidaklah kemudian sama dengan model bisnis pada umumnya, tapi lebih pada jasa penelusuran informasi. Perpustakaan tidak boleh menjual konten informasi sebab kalo konten informasi yang diperjual belikan maka ia akan lepas dari visi, misi tujuan perpustakaan didirikan, dan akan sangat bersinggungan dengan pelanggaran hukum tentang hak kekayaan intelektual.

Potensi bisnis informasi pada layanan e-commerce ini mempunyai banyak keunggulan mulai baik bagi pembeli maupun penjual dari pasarnya sangat tak terbatas, tidak takut delay, informasi dapat langsung diakses dan yang jelas jauh lebih murah karena hanya membayar jasa penelusurannya saja.

Karakteristik E-Comerce
Wira dalam Iman (2005) menyatakan bahwa transaksi dalam e-commerce memiliki karakteristik yang sangat khusus, yaitu: 
  1. Transaksi tanpa batas; pengusaha dapat memasarkan produknya ke seluruh pelosok dunia           hanya dengan membuat situs web atau memasang iklan di situs internet, dan pelanggan dapat mengakses dan melakukan transaksi secara online tanpa dibatasi waktu; 
  2. Transaksi anonim, yaitu penjual dan pembeli tidak perlu bertemu muka satu sama lain;
  3. Produk digital dan nondigital; produk yang bersifat digital dapat dipasarkan melalui internet dengan cara mendownload, sedangkan produk nondigital dikirim secara langsung; 
  4. Produk barang tak berwujud; banyak perusahaan yang menawarkan barang tak berwujud seperti data, informasi, perangkat lunak serta ide atau gagasan melalui internet.
Dalam layanan e-commerce informasi harus diolah dan pengolahannya tentu berbeda dengan model pengolahan layanan yang ada diperpustakaan yang dilayankan secara offline, proses pengolahan layanan e-commerce merupakan tindak lanjut setelah pengetahuan tersebut dikumpulkan.

Pengolahan mencakup proses digitalisasi, pembuatan metadata, dan uploading hasil pengolahan ke dalam  web. Digitalisasi meliputi scanning, yaitu memindahkan dokumen tercetak ke dalam bentuk digital. Untuk membuka peluang pengguna mengakses informasi  seoptimal mungkin, maka berkas dibuat dalam format pdf teks, sehingga dapat ditelusur dengan mudah oleh pengguna.

Konversi dilakukan jika dokumen sudah dalam bentuk elektronis (softcopy). Konversi dimaksudkan untuk menyamakan format dan mengatur penamaan  file dan pembuatan metadata dilakukan untuk keperluan penelusuran berbasis web , yaitu dengan membuat data bibliografi yang meliputi nama penulis, judul abstrak, kata kunci, tahun terbit, dan nama jurnal. 


SIMPULAN
Perpustakaan saat ini mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam meyediakan layanan informasi kepada pengguna, baik secara online maupun offline, perpustakaan yang memberikan pelayanan informasi secara online mempunyai kesempatan mengoptimalkan layanan e-commerce kepada pengguna, dan apabila layanan e-commerce dapat berjalan dengan maksimal maka secara lambat laun perpustakaan akan bisa mandiri dalam pendanaan.
Hal penting dari layanan e-commerce informasi ini adalah besarnya pasar yang  menjadi sasaran bisnis ini, tidak berisiko, dan tidak rugi secara material karena tidak ada barang yang di keluarkan, pengguna hanya mendownloud atau dikirim via email terkait informasi yang dipesan.
Oleh karena itu pengemasan informasi yang dapat menarik pengguna untuk menggunakan jasa ecommers ini merupakan suatu tantangan bagi pustakawan untuk selalu melakukan inovasi dan kreasinya agar layanan tersebut banyak digemari orang. 

Daftar Bacaan
Diamond, Wendy dan Michael R. Oppenheim. 2004.  Marketing information : a strategic guide foe business and finance library.

Rufaidah, Vivit Wardah. (2007) KNOWLEDGE COMMERCE: Peluang Implementasinya di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. Jurnal Pertanian Perpustakaan  Vol.16. no 02 http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/pp162072.pdf Akses 05 Februari 2014

Elvina, Irma. (t.t). Membisniskan Layanan Perpustakaan Menggunakan e-commerce. Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 10 No. 2 http://journal.ipb.ac.id/index.php/jpi/article/.../5278/3693 Akses 05 Februari 2014






Tidak ada komentar:

Posting Komentar