Oleh : Supriyadi
Pendahuluan
Dalam gelombang peradaban umat manusia, menurut Alvin
Tofler dalam Ocha (2011) ummat manusia dibagi dalam tiga era. Pertama disebut
sebagai era pertanian (agraris) yang terjadi antara tahun 8000 SM-1700 Masehi,
dimana pada masa ini sebagian besar masyarakat bergerak di bidang pertanian.dan
pertanian dijadikan komoditas utamanya. Kedua adalah era industri yang terjadi
antara tahun 1700-1970 M pada tahun ini disebut dengan masyarkat industri,
dimana kondisi masyarakatnya pada era ini segala sesuatu yang terkait dengan
industri menjadi hal yang diprioritaskan, ciri-ciri masyarakat pada fase ini di
tandai dengan peralihan tenaga manusia dengan tenaga mesin, dan yang ketiga
adalah era informasin yang terjadi antara tahun 1979-2000 M. suatu masyarakat yang menempatkan informasi
sebagai kebutuhan utamanya atau disebut dengan masyarakat informasi
Mobilisasi informasi pada era yang ketiga tersebut
berjalan sangat cepat dan menyebabkan efisiensi sangat tinggi, mobilitas
manusia dan barang semakin meningkat, industri mekanik berubah menjadi industri
program, ditemukannya teknologi informasi dan data prosessing, dan era ini
menurut penulis masih berlangsung sampai saat ini.
Dalam perkembangannya teknologi informasi saat ini
sudah masuk kesegala sektor, tidak terkecuali perpustakaan. Hadirnya teknologi
informasi di perpustakaan telah banyak membawa perubahan, baik mulai dari
pegelolaan, penyimpanan, pemeliharaan sampai pada layanan atau dari yang semula
menggunakan sistem manual sampai pada sistem digital.
Masyarakat pada saat ini di tuntut untuk selalu menguasai
informasi sebagai instrumen atau alat untuk bersaing dalam berbagai hal,“siapa
yang menguasai informasi dia akan menjadi penentu baik dalam hal pengambilan
kebijakan ataupun dalam hal yang lainnya” dan siapa yang buta tentang informasi
maka dia akan tertinggal.
Kehadiran perpustakaan pada era informasi seperti
sekarang ini merupakan suatu keniscayaan, sebab mengacu pada fungsi utama
perpustakaan yang pada dasarnya adalah mengumpulkan, menyimpan atau memilihara
dan menyebarkan informasi tersebut, oleh karenanya para penggiat informasi yang
dalam hal ini kita sebut pustakawan dituntut untuk selalu aktif dalam
mengembangkan potensinya, agar kebutuhan informasi penggunanya dapat terpenuhi
dengan maksimal.
Layanan
Perpustakaan
Salah satu fungsi perpustakaan adalah memberikan
layanan informasi kepada penggunanya, dalam hal layanan ini penulis
menyerdehanakan atau membaginya menjadi dua model layanan diantaranya adalah model
layanan offline dan model layanan online.
Adapun model layanan off line yang dimaksud adalah layanan yang dilakukan atau diberikan
dimana perpustakaan itu berada dan biasanya pengguna datang keperpustakaan
untuk mencari informasi tertentu, kemudian pustakawan melayaninya atau
pustakawan yang mendatangi dimana pengguna berada seperti layanan perpustakaan
keliling, sedangkan model layanan online
adalah layanan yang diberikan perpustakaan kepada pengguna tanpa harus
mendatangi perpustakaan akan tetapi informasi yang dibutuhkan dapat diakses
dari tempat dimana pengguna berada dan layanan ini hanya bisa dilakukan oleh
perpustakaan digital.
Dalam konteks perpustakaan di Indonesia, baik
perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan umum, layanan online yang diberikan baru hanya sebatas
catalog yang di online kan, bukan
konten dari informasi yang dibutuhkan sehingga pengguna tetap harus mendatangi
perpustakaan. Di perpustakaan Perguruan Tinggi pun juga demikian, kalau pun ada
hanya beberapa informasi yang ditampilkan dan sangat jarang sekali kita
menemukan perpustakaan yang menampilkan konten informasinya secara full tex.
Melihat dinamika kebutuhan informasi yang semakin
berkembang dan teknologi yang akhir-akhir ini semakin canggih hendaknya
perpustakaan harus mampu memberikan kemudahan kepada pengguna, mulai dari kemudahan
dalam akses sampai pada soal kelengkapan informasi yang ditampilkan.
Ketika informasi menjadi komoditas dalam masyarakat,
maka nilai informasi akan semakin tinggi, oleh karenanya perpustakaan sebagai
penyedia informasi seharusnya mampu mengemas informasinya agar mempunyai nilai
ekonomi. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar layanan perpustakaan
mempunyai nilai ekonomi yaitu dengan mengoptimalkan potensi e-commerce dalam memberikan layanan
informasi.
Layanan
e-commerce Informasi
e-commerce
atau electronic commerce merupakan
salah satu bentuk layanan yang berkembang pesat dalam dunia internet.
Penggunaan e-commerce dapat
menguntungkan banyak pihak, baik konsumen maupun produsen dan penjual (retailer).
Bagi konsumen, penggunaan e-commerce dapat mempersingkat waktu belanja. Harga barang yang
dijual melalui e-commerce biasanya lebih murah daripada harga di toko, karena jalur distribusi barang
dari produsen kepenjual lebih singkat dibandingkan dengan toko konvensional.
Online
shopping memberikan banyak kemudahan dan kelebihan
dibandingkan dengan cara belanja konvensional. Selain waktu belanja lebih
singkat, di internet tersedia berbagai macam barang yang dijual secara lengkap.
Informasi mengenai barang tersebut juga tersedia, sehingga walaupun tidak
membelinya secara online, seseorang dapat memperoleh informasi
yang diperlukan untuk memilih produk yang akan dibeli (Rufaida: 2007).
E-commerce
dapat diterapkan dalam kegiatan bisnis perpustakaan. Purbo (2005) dalam Rufaida
(2007) menyatakan bahwa transaksi pada e-commerce
bukan hanya transaksi barang dan uang, tetapi juga transaksi informasi,
pengetahuan, dan jasa. Dalam hal ini perpustakaan dapat memanfaatkan e-commerce untuk mengkomersialkan
layanan perpustakaan seperti peminjaman antarperpustakaan (interlibrary loan),
penelusuran terpasang (online), layanan referensi, bibliografi, salinan bahan,
dan jasa kesiagaan informasi.
Transaksi tersebut bukan tidak mungkin dapat memberikan
nilai tambah bagi perpustakaan. Selain sebagai sarana promosi perpustakaan,
transaksi juga menghasilkan keuntungan yang dapat meningkatkan kesejahteraan
dan kinerja petugas perpustakaan dan pustakawan.
Oppenheim (2004) mengatakan bahwa sejak informasi
menjadi kunci sukses suatu bisnis, dan para manajer mau membayar ketika
membutuhkannya. Oleh karenanya penggiat informasi saat ini mempunyai peran yang
sangat besar dalam mengembangkan potensinya di dunia bisnis informasi.
Model bisnis informasi yang dimaksud disini tidaklah
kemudian sama dengan model bisnis pada umumnya, tapi lebih pada jasa
penelusuran informasi. Perpustakaan tidak boleh menjual konten informasi sebab
kalo konten informasi yang diperjual belikan maka ia akan lepas dari visi, misi
tujuan perpustakaan didirikan, dan akan sangat bersinggungan dengan pelanggaran
hukum tentang hak kekayaan intelektual.
Potensi bisnis informasi pada layanan e-commerce ini mempunyai banyak
keunggulan mulai baik bagi pembeli maupun penjual dari pasarnya sangat tak
terbatas, tidak takut delay, informasi dapat langsung diakses dan yang jelas
jauh lebih murah karena hanya membayar jasa penelusurannya saja.
Karakteristik E-Comerce
Wira dalam Iman (2005)
menyatakan bahwa transaksi dalam e-commerce memiliki karakteristik yang sangat
khusus, yaitu:
- Transaksi tanpa batas; pengusaha dapat memasarkan produknya ke seluruh pelosok dunia hanya dengan membuat situs web atau memasang iklan di situs internet, dan pelanggan dapat mengakses dan melakukan transaksi secara online tanpa dibatasi waktu;
- Transaksi anonim, yaitu penjual dan pembeli tidak perlu bertemu muka satu sama lain;
- Produk digital dan nondigital; produk yang bersifat digital dapat dipasarkan melalui internet dengan cara mendownload, sedangkan produk nondigital dikirim secara langsung;
- Produk barang tak berwujud; banyak perusahaan yang menawarkan barang tak berwujud seperti data, informasi, perangkat lunak serta ide atau gagasan melalui internet.
Dalam layanan e-commerce
informasi harus diolah dan pengolahannya tentu berbeda dengan model pengolahan
layanan yang ada diperpustakaan yang dilayankan secara offline, proses pengolahan layanan e-commerce merupakan tindak lanjut setelah pengetahuan tersebut
dikumpulkan.
Pengolahan mencakup proses digitalisasi, pembuatan
metadata, dan uploading hasil pengolahan ke dalam web. Digitalisasi meliputi scanning, yaitu
memindahkan dokumen tercetak ke dalam bentuk digital. Untuk membuka peluang
pengguna mengakses informasi seoptimal mungkin,
maka berkas dibuat dalam format pdf teks, sehingga dapat ditelusur dengan mudah
oleh pengguna.
Konversi dilakukan jika dokumen sudah dalam bentuk
elektronis (softcopy). Konversi dimaksudkan untuk menyamakan format dan
mengatur penamaan file dan pembuatan metadata
dilakukan untuk keperluan penelusuran berbasis web , yaitu dengan membuat data bibliografi
yang meliputi nama penulis, judul abstrak, kata kunci, tahun terbit, dan nama
jurnal.
SIMPULAN
Perpustakaan saat ini mempunyai peranan yang sangat
signifikan dalam meyediakan layanan informasi kepada pengguna, baik secara
online maupun offline, perpustakaan yang memberikan pelayanan informasi secara
online mempunyai kesempatan mengoptimalkan layanan e-commerce kepada pengguna,
dan apabila layanan e-commerce dapat berjalan dengan maksimal maka secara
lambat laun perpustakaan akan bisa mandiri dalam pendanaan.
Hal penting dari layanan e-commerce informasi ini
adalah besarnya pasar yang menjadi
sasaran bisnis ini, tidak berisiko, dan tidak rugi secara material karena tidak
ada barang yang di keluarkan, pengguna hanya mendownloud atau dikirim via email
terkait informasi yang dipesan.
Oleh karena itu pengemasan informasi yang dapat
menarik pengguna untuk menggunakan jasa ecommers ini merupakan suatu tantangan
bagi pustakawan untuk selalu melakukan inovasi dan kreasinya agar layanan tersebut
banyak digemari orang.
Daftar Bacaan
Diamond,
Wendy dan Michael R. Oppenheim. 2004. Marketing information : a strategic guide
foe business and finance library.
Rufaidah,
Vivit Wardah. (2007) KNOWLEDGE
COMMERCE: Peluang Implementasinya di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran
Teknologi Pertanian. Jurnal Pertanian Perpustakaan Vol.16. no 02 http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/pp162072.pdf Akses 05 Februari 2014
Elvina,
Irma. (t.t).
Membisniskan Layanan Perpustakaan
Menggunakan e-commerce. Jurnal
Pustakawan Indonesia Volume 10 No. 2 http://journal.ipb.ac.id/index.php/jpi/article/.../5278/3693 Akses 05 Februari 2014
http://kelompokimpus.blogspot.com/2013/05/e-commerce-sebelum-menutup-semua-tab-di.html
akses 6 Februari 2014
http://zero-fisip.web.unair.ac.id/artikel_detail-69657-Artikel%20Ilmiah-VIRTUAL%20LIBRARY:%20PARADIGMA%20BARU%20PENGELOLAAN%20INFORMASI.html akses tanggal 6
Februari 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar