Selasa, 18 Februari 2014

REPOSISI PERAN PUSTAKAWAN DALAM IMPLEMENTASI TEKNOLOGI INFORMASI DI PERPUSTAKAAN


Oleh: Supriyadi
I.         Pendahuluan
Masuknya dunia teknologi informasi dalam dunia perpustakaan telah banyak merubah wajah dunia perpustakaan, dalam perkembangannya perpustakaan pun mengalami pergeseran makna. Perpustakaan saat ini tidak lagi hanya diartikan sebagai tempat pustaka atau buku dalam bentuk cetak, akan tetapi perpustakaan saat ini sudah mengalami banyak perubahan, mulai dari sistem layanan, pengolahan sampai pada sistem penyimpanan, yang pada akhirnya juga merubah bentuk koleksinya yang berawal dari koleksi cetak, elektronik dan saat ini sudah banyak koleksi yang berbentuk digital.

Perubahan-perubahan yang diakibatkan oleh perkembangan teknologi tersebut juga mengharuskan adanya perubahan cara pandang pustakawan dalam mengelolah perpustakaan, dalam kacamata konvensional mengelolah perpustakaan dapat dikatakan sederhana dan relative mudah dengan bekal keilmuan dimilikinya dan model pengelolaannya pun berbasis fisik, tapi dalam kontek saat ini yang harus diolah pustakawan adalah sebuah konten informasi yang kita kenal dengan Management Content dalam temu kembali informasi.

Pengelolaan konten informasi tentu tidak sesederhana pengelolaan bahan pustaka fisik sebab pengelolaan konten informasi melibatkan disiplin ilmu dalam bidang teknologi dan ilmu perpustakaan, oleh karenanya dibutuhkan tenaga-tenaga pustakawan yang paham di bidang teknologi, sebab kalo tidak perpustakaan tidak akan berkembang seperti apa yang diungkapkan oleh S.R. Ranganathan  tentang  “Five Laws of Library Science” pada point kelima yaitu “The library is growing organism” bahwa perpustakaan itu adalah ornganisasi yang tumbuh atau berkembang.

Dalam perkembangannya saat ini tingkat kunjung perpustakaan dalam bentuk fisik tidak lagi menjadi tolak ukur meningkat tidaknya pemanfaatan koleksi di perpustakaan, sebab dengan hadirnya teknologi informasi di perpustakaan akhir-akhir ini telah merubah pola kunjung pengguna kepada perpustakaan, hal ini dikarenakan teknologi telah memberikan layanan yang lebih nyaman, efektif dan efisien, dari segi waktu relatif lebih cepat, biayapun (ekonomi) relatif lebih murah dan mudah dijangkau.

Perkembangan-perkembangan inilah kemudian mengharuskan pustakawan juga mengalami pergeseran model kerja, dimana segala sesuatunya dalam perpustakaan konvensial bisa dilakukan semua oleh pustakawan, saat ini  beberapa model pekerjaan harus menggunakan bantuan mesin.

II.   Batasan Masalah
Adapun batasan masalah dari makalah ini adalah membahas tentang peran pustakawan yang berkaitan dengan teknologi informasi yang saat ini berkembang di Perpustakaan.

III.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka dalam makalah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Bagaimanakah peran pustakawan dengan adanya teknologi informasi di perpustakaan...?
2.      Kompetensi apakah yang harus dimiliki pustakawan agar mampu mengimplementasikan teknologi informasi di perpustakaan....?
3.      Kendala-kendala apa sajakah yang di hadapi pustakawan dalam mengimplementasikan teknologi informasi di perpustakaan...?  

IV. Tujuan dan Manfaat Tulisan
1.      Tujuan Penulisan
a.       Untuk mengetahui bagaimanakah peran pustakawan dengan adanya teknologi informasi di perpustakaan
b.      Untuk mengetahui kompetensi apakah yang harus dimiliki pustakawan agar mampu mengimplementasikan teknologi informasi di perpustakaan
c.       Untuk mengetahui kendala-kendala apa sajakah yang di hadapi pustakawan dalam mengimplementasikan teknologi informasi di perpustakaan
2.      Manfaat Penulisan
a.       Menambah khasanah pengetahuan dan wawasan tentang peran pustakawan dalam mengimplementasikan teknologi informasi di perpustakaan
b.      Memberikan sumbangsih pemikiran bagi pustakawan dalam menghadapi perkembangan yang ada di perpustakaan dengan hadirnya teknologi informasi.
c.       Sebagai bahan pertimbangan bagi pengambil kebijakan di perpustakaan dalam pemanfaatan teknologi informasi. 

V. Landasan Teori
Pada landasan teori ini, penulis akan mendeskripsikan tentang reposisi peran pustakawan dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan.
1.    Teknologi Informasi
Teknologi informasi adalah perangkat keras bersifat organisatoris, dan meneruskan nilai-nilai sosial dengan siapa individu atau khalayak mengumpulkan, memproses, dan saling mempertukarkan informasi dengan individu atau khalayak lain (Rogers: 1986), sedangkan  Menurut Sulistyo-Basuki (1991) menyatakan bahwa Teknologi Informasi adalah teknologi yang digunakan untuk menyimpan, mengolah, menghasilkan, dan menyebar luaskan informasi
Dari dua pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa teknologi informasi adalah seperangkat alat yang digunakan untuk penyimpanan, pengolahan, dan dapat  dimanfaatkan untuk menyebarkan suatu informasi, baik untuk kepentingan individu maupun untuk kepentingan orang banyak.
2.      Penerapan Teknologi Informasi di Perpustakaan
Menurut Ishak (2008:89) bahwa penerapan Teknologi Informasi (TI) di perpustakaan dapat difungsikan dalam berbagai bentuk, antara lain:
a.    Sebagai Sistem Manajemen Perpustakaan
Dalam perpustakaan pekerjaan yang dapat diintegrasikan dengan sistem manajemen perpustakaan adalah pengadaan, inventarisasi, katalogisasi, sirkulasi, keanggotaan, statistik dan lain sebagainya. Fungsi ini sering diistilahkan sebagai bentuk automasi perpustakaan, seperti yang disampaikan Kusumaningrum :1998 dalam Ardoni (2008:33) bahwa tujuan dari automasi di perpustakaan yaitu, untuk mengatasi pekerjaan yang menumpuk, meningkatkan efisiensi, kerjasama dan sentralisasi.
b.  Sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan, dan menyebarluaskan
informasi ilmu pengetahuan dalam format digital. Bentuk penerapan TI ini sering dikenal dengan Perpustakaan digital  (digital library). 
Sedangkan menurut Line dalam Qulyubi (2003:365) mengemukakan dua alasan yang berkaitan dengan pengembangan sistem komputer di perpustakaan diantaranya adalah:
a.    Penyediaan jasa dengan biaya murah dan perolehan keuntungan dengan pengeluaran yang minimal, dimana pengembangan sistem memungkinkan penyediaan akses pada online katalog di perpustakaan dan penelusuran yang luas pada literatur yang sudah tersimpan dalam CD-ROM serta kemampuan dalam pembuatan informasi manajeman.
b.    Untuk menyediakan sistem standar yang bisa dipakai bersama di antara perpustakaan yang bekerja sama, tugas-tugas perpustakaan dapat diselesaikan lebih akurat, cepat dan terkontrol.

Adapun keuntungan dari penerapan teknologi informasi diperpustakaan diantarnya adalah sebagai berikut:
1)      Mempermudah dan mengefisiensikan pekerjaan pengelolaan perpustakaan
2)      Memberikan layanan yang lebih baik pada pengguna
3)      Meningkatkan citra perpustakaan dan pustakawan
4)      Mengembangkan infrastruktur regional, nasional dan global
5)      Informasi dapat diakses dari luar perpustakaan dengan mudah

3.      Teknologi Informasi dan Pustakawan
Salah satu kendala dalam implementasi teknologi informasi di perpustakaan adalah mengenai sumber daya manusia (SDM) perpustakaan (Suhartika:2004).  Kondisi SDM perpustakaan di Indonesia pada umumnya adalah secara kulaitas dan kuantitas masih terbatas, tidak merata dan kurang adanya kreativitas dan keinginan untuk menekuni profesi secara mendalam. Sementara itu, perpustakaan berbasis teknologi informasi menuntut SDM (pustakawan) yang memiliki keterampilan di bidang database, aplikasi perpustakaan, internet, jaringan serta pengelolaan komputer. Untuk menjaga kualitas SDM,maka pustakawan sebagai pengelola perpustakaan harus mempunyai persepsi dan meyakini bahwa TI merupakan bagian penting dalam pengelolaan perpustakaan.

Sedangkan menurut Zuntriana (2010) Dunia kepustakawanan telah mengalami berbagai evolusi yang tak terduga. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), terutama teknologi internet generasi kedua (web 2.0) memaksa pustakawan untuk mulai beralih paradigma dan melakukan reposisi terhadap perannya selama ini. Kemudahan teknologi web 2.0 yang bersifat partisipatif dan multi arah memberi banyak kemungkinan baru bagi para pustakawan untuk lebih menunjukkan eksistensinya di masyarakat.

 4.      Kompetensi Pustakawan dalam penerapan TI
Perkembangan  teknologi  informasi  yang  terjadi  di  perpustakaan  pada  saat sekarang  ini  membawa  harapan sangat  besar  terhadap pemenuhan informasi yang dibutuhkan pengguna, untuk  dapat sepenuhnya  memenuhi  harapan  tersebut,  seorang  pustakawan  harus  bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi pada saat sekarang ini, dan meningkatkan  kinerja  pustakawan  itu  sendiri  karena  dengan  semakin  majunya ilmu pengetahuan dan teknologi informasi perpustakaan memerlukan pustakawan yang memiliki keahlian di bidang teknologi informasi.

Menurut Ishak (2008) ada beberapa kompetensi atau skill yang harus dimiliki oleh pustakawan saat ini, adapun skill yang dimaksud diantaranya adalah skill Manajemen Informasi, skill Interpersonal, skill Manajemen Administrasi dan skill Teknologi Informasi.
Beberapa skill TI yang diperlukan diantaranya adalah :
1)      Desain Database dan Manajemen Database
2)      Data Warehousing
3)      Penerbitan elektronik
4)      Perangkat keras
5)      Arsitektur Informasi
6)      Sumber Informasi Elektronik
7)      Integrasi Informasi
8)      Desain Intranet/Extranet
9)      Aplikasi perangkat lunak
10)  Pemrogaman
11)  Workflow/Alur Kerja
12)  Pemrosesan Teks (Text Processing)
13)  Metadata
14)  Perangkat lunak untuk manajemen informasi (Information Management tools )

VI. Pembahasan
Perkembangan teknologi yang mengalami perkembangan yang sangat cepat dalam dunia perpustakaan mengharuskan adanya pemberdayaam sumberdaya manusia agar mampu mengimbangi perkembangan-perkembangan tersebut. Seorang pustakawan tidak harus ahli dalam teknologi secarah utuh akan tetapi dia harus mampu menguasa cara kerja dari teknologi kemudian mampu mendesain kebutuhan apa yang dianggap perlu dan penting dalam perpustakaan yang akan di operasikan teknologi, sebab kalo tidak maka perpustakaan masa depan bukan lagi seorang pustakawan yang mengelolah tapi adalah orang-orang lulusan teknologi informasi dan pustakawan tidak menuntut kemunkinan hanya akan menjadi penonton.

Dalam perkembangannya saat ini kita mengenal istilah library 2.0 yang pertama kali diperkenalkan oleh  Michael Casey dalam blognya, Library Crunch, pada bulan September 2005. Istilah ini digunakan untuk menyebut perpustakaan yang benar-benar berbeda dengan perpustakaan yang pernah ada selama ini. Dalam visinya, library 2.0 berupaya menyediakan informasi yang tersedia dimana pun dan kapan pun pengguna membutuhkannya.

Salah satu contoh perpustakaan yang dapat dikategorikan dalam library 2.0 adalah perpustakaan pusat Universitas Teknologi Chalmer’s, dalam penelitian yang dilakukan oleh Daniel Forsman (2012), dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa pengguna lebih banyak memanfaatkan perpustakaan dengan menelusur informasi dari luar perpustakaan dan cenderung menghindari pertemuan antar muka dengan pelayanan perpustakaan, disamping itu juga perubahan drastis yang terjadi  pada pengadaan buku, nyaris ditemukan pada sepuluh tahun terakhir 90% perpustakaan membelajakan anggarannya untuk buku-buku digital dari pada buku fisik.
Pada perpustakaan chalmers tingkat kunjung dalam bentuk fisik keperpustakaan mengalami penurunan yang sangat signifikan, akan tetapi tingkat kunjung dalam bentuk online mengalami peningkatan yang pesat.
Berdasarkan pada penelitian tersebut dapat dikatakan bahwa diperpustakaan Chalmers ada perubahan model akses dalam menelusur informasi, dan kencenderungan publik dalam mengakses informasi tersebut lebih banyak menggunakan teknologi informasi.

Perubahan-perubahan yang terjadi diperpustakaan juga dapat merubah peran pustakawan dalam mengelolah perpustakaan, pada model perpustakaan konvensional peran pustakawan hanya berkelindan dengan persoalan-persoalan teknis, dengan hadirnya teknologi informasi di perpustakaan peran-peran teknis perpustakaan sudah digantikan dengan mesin.

Perubahan peran pada pustakawan tersebut, tentu membutuhkan keahlian tertentu yang sesuai dengan peran barunya, dengan adanya teknologi informasi diperpustakaan saat ini pustakawan diharapkan mampu menggabungkan prinsip-prinsip kepustakawanannya dengan kemampuan teknologi tersebut.

Oleh karena itu pustakawan juga harus mempunyai kompetensi atau skill dibidang teknologi informasi yang berkaitan dengan kepustakawanan. Adapun skill atau kompetensi TI yang harus dikuasai pustakawan diantaranya adalah Desain Database dan Manajemen Database, Data Warehousing, Penerbitan elektronik, Perangkat keras, Arsitektur Informasi, Sumber Informasi Elektronik, Integrasi Informasi, Desain Intranet/Extranet, Aplikasi perangkat lunak, Pemrogaman, Workflow/Alur Kerja, Pemrosesan Teks (Text Processing), Metadata dan Perangkat lunak untuk manajemen informasi (Information Management tools )

Kemampuan menguasai berbagai kompetensi tersebut tentu tidak mudah dipelajari secara outodidak oleh pustakawan, Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka pemberian pendidikan dan pelatihan (Diklat) tentang teknologi informasi sangat perlu dilakukan. Tujuan pelatihan atau lokakarya implementasi teknologi informasi di perpustakaan adalah : untuk memberikan informasi tentang pentingnya teknologi informasi bagi perpustakaan, untuk menyediakan akses informasi yang diperlukan bagi kegiatan pendidikan dan penelitian di perpustakaan, untuk mengimplementasikan sistem informasi perpustakaan, untuk meningkatkan pelayanan dan fungsi tenaga perpustakaan.

Dengan pemberian pelatihan atau lokakarya diharapkan staf perpustakaan mengenai teknologi informasi menjadi meningkat. Di samping itu, dengan adanya pelatihan atau lokakarya itu, minat para staf terhadap aplikasi teknologi informasi menjadi tinggi, serta adanya citra (image) pustakawan modern meningkat.

VII. Kesimpulan
Teknologi Informasi terutama komputer telah merasuk dalam kebidang kerja kepustakawanan, semestinya sebagai orang terus berkelindan dengan informasi, pustakawan harus lebih peka terhadap perkembangan teknologi. Oleh karenanya pendidikan tentang teknologi informasi bagi pustakawan akhir-akhir ini menjadi suatu keharusan dalam meningkatkan kompetensi pustakawan, agar peran pustakawan tetap menjadi pelaku dalam pergembangan perpustakaan. Pustakawan tidak harus ahli dalam teknologi sebab dia bekerja bukan untuk itu, tapi penguasaan terhadap teknologi informasi yang ada di perpustakaan adalah suatu keharusan.
Akan tetapi melihat dinamika yang berkembang dilapangan saat ini masih masih jauh dari harapan, sebab kehadiran teknologi diperpustakaan masih dianggap suatu masalah bukan sebagai solusi, hal itu dikarenakan kemampuan pustakawan dalam menggunakan teknologi masih sangat rendah.

VIII. Saran
Peningkatan komptensi dalam bidang teknologi informasi bagi pustakawan merupakan hal yang penting dan mendesak untuk dilakukan, karena tuntutan akan kebutuhan informasi masyarakat saat ini semakin tinggi. Pergesaran peran bagi pustakawan harus segera ditindaklanjuti dengan pemahaman akan keilmuannya agar tidak menimbulkan persoalan baru. Karena kemampuan pustakawan dalam mengimplementasikan teknologi informasi  dalam perpustakaan merupakan hal yang tidak bisa dihindari.

DAFTAR BACAAN:


Ardoni (2005). Teknologi Informasi: Kesiapan Pustakawan Memanfaatkannya. Jurnal Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Vol.1. No 2, Desember . Studi Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Universitas Negeri Padang

Daniel Forsman (2012) Change as a service – challenges and effects of a new paradigm for library systems and content infrastructure. Chalmers University of Technology, Gothenburg, Sweden. Library Management Vol. 33 No. 8/9
Dewiyana, Himmah. (2006). Komptensi dan kurikulum: Perspektif baru dalam dunia kerja di eraGlobalisasi Informasi. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.2 . No 1 Juni.

 Ishak (2008). Pengelolaan Perpustakaan Berbasis Teknologi Informasi. Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol. 4, No. 2, Desember. Departemen Studi Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara.

 J.B. Wahyudi. (1992). Teknologi Informasi dan Produksi Citra Bergerak. Jakarta. 
 
Nelisa, Malta dan Feni Surgana. (2013). Strategi peningkatan kinerja pustakawan dalam menghadapi perkembangan teknologi informasi  di perpustakaan umum gunung bungsu (PUGB) kabupaten tanah datar.  Jurnal Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan Vol. 2, No. 1, September, Seri B

Priyanto, Ida Fajar. (t.t). Tantangan baru dunia kepustakawanan: Menuju masa depan yang berubah. http://lib.ugm.ac.id/data/pubdata/pusta/priyanto_UIN.pdf.

Qalyubi, Syihabuddin. 2003.  Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan IPI. Fak. Adab UIN SUKA

Rogers, M. (1986). Communication Technology The New Media in Society. New York: The Free Press A Dursion of Macmillan. Inc

Sulistyo-Basuki. 1991 Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Suhartika,  I Putu. (2004). Implementasi Teknologi Informasi Sebagai Usaha. Majalah  Visi Pustaka , Edisi  Vol.6 No.2  Desember.











OPTIMALISASI POTENSI E-COMMERCE PADA LAYANAN PERPUSTAKAAN

Oleh : Supriyadi
Pendahuluan
Dalam gelombang peradaban umat manusia, menurut Alvin Tofler dalam Ocha (2011) ummat manusia dibagi dalam tiga era. Pertama disebut sebagai era pertanian (agraris) yang terjadi antara tahun 8000 SM-1700 Masehi, dimana pada masa ini sebagian besar masyarakat bergerak di bidang pertanian.dan pertanian dijadikan komoditas utamanya. Kedua adalah era industri yang terjadi antara tahun 1700-1970 M pada tahun ini disebut dengan masyarkat industri, dimana kondisi masyarakatnya pada era ini segala sesuatu yang terkait dengan industri menjadi hal yang diprioritaskan, ciri-ciri masyarakat pada fase ini di tandai dengan peralihan tenaga manusia dengan tenaga mesin, dan yang ketiga adalah era informasin yang terjadi antara tahun 1979-2000 M.  suatu masyarakat yang menempatkan informasi sebagai kebutuhan utamanya atau disebut dengan masyarakat informasi

Mobilisasi informasi pada era yang ketiga tersebut berjalan sangat cepat dan menyebabkan efisiensi sangat tinggi, mobilitas manusia dan barang semakin meningkat, industri mekanik berubah menjadi industri program, ditemukannya teknologi informasi dan data prosessing, dan era ini menurut penulis masih berlangsung sampai saat ini.

Dalam perkembangannya teknologi informasi saat ini sudah masuk kesegala sektor, tidak terkecuali perpustakaan. Hadirnya teknologi informasi di perpustakaan telah banyak membawa perubahan, baik mulai dari pegelolaan, penyimpanan, pemeliharaan sampai pada layanan atau dari yang semula menggunakan sistem manual sampai pada sistem digital.
Masyarakat pada saat ini di tuntut untuk selalu menguasai informasi sebagai instrumen atau alat untuk bersaing dalam berbagai hal,“siapa yang menguasai informasi dia akan menjadi penentu baik dalam hal pengambilan kebijakan ataupun dalam hal yang lainnya” dan siapa yang buta tentang informasi maka dia akan tertinggal.

Kehadiran perpustakaan pada era informasi seperti sekarang ini merupakan suatu keniscayaan, sebab mengacu pada fungsi utama perpustakaan yang pada dasarnya adalah mengumpulkan, menyimpan atau memilihara dan menyebarkan informasi tersebut, oleh karenanya para penggiat informasi yang dalam hal ini kita sebut pustakawan dituntut untuk selalu aktif dalam mengembangkan potensinya, agar kebutuhan informasi penggunanya dapat terpenuhi dengan maksimal.

Layanan Perpustakaan
Salah satu fungsi perpustakaan adalah memberikan layanan informasi kepada penggunanya, dalam hal layanan ini penulis menyerdehanakan atau membaginya menjadi dua model layanan diantaranya adalah model layanan offline dan model layanan online.

Adapun model layanan off line yang dimaksud adalah layanan yang dilakukan atau diberikan dimana perpustakaan itu berada dan biasanya pengguna datang keperpustakaan untuk mencari informasi tertentu, kemudian pustakawan melayaninya atau pustakawan yang mendatangi dimana pengguna berada seperti layanan perpustakaan keliling, sedangkan model layanan online adalah layanan yang diberikan perpustakaan kepada pengguna tanpa harus mendatangi perpustakaan akan tetapi informasi yang dibutuhkan dapat diakses dari tempat dimana pengguna berada dan layanan ini hanya bisa dilakukan oleh perpustakaan digital.

Dalam konteks perpustakaan di Indonesia, baik perpustakaan perguruan tinggi maupun perpustakaan umum, layanan online yang diberikan baru hanya sebatas catalog yang di online kan, bukan konten dari informasi yang dibutuhkan sehingga pengguna tetap harus mendatangi perpustakaan. Di perpustakaan Perguruan Tinggi pun juga demikian, kalau pun ada hanya beberapa informasi yang ditampilkan dan sangat jarang sekali kita menemukan perpustakaan yang menampilkan konten informasinya secara full tex.
Melihat dinamika kebutuhan informasi yang semakin berkembang dan teknologi yang akhir-akhir ini semakin canggih hendaknya perpustakaan harus mampu memberikan kemudahan kepada pengguna, mulai dari kemudahan dalam akses sampai pada soal kelengkapan informasi yang ditampilkan.

Ketika informasi menjadi komoditas dalam masyarakat, maka nilai informasi akan semakin tinggi, oleh karenanya perpustakaan sebagai penyedia informasi seharusnya mampu mengemas informasinya agar mempunyai nilai ekonomi. Salah satu cara yang dapat dilakukan agar layanan perpustakaan mempunyai nilai ekonomi yaitu dengan mengoptimalkan potensi e-commerce dalam memberikan layanan informasi.

Layanan e-commerce Informasi
e-commerce atau electronic commerce merupakan salah satu bentuk layanan yang berkembang pesat dalam dunia internet. Penggunaan e-commerce dapat menguntungkan banyak pihak, baik konsumen maupun produsen dan penjual (retailer).

Bagi konsumen, penggunaan e-commerce dapat mempersingkat waktu belanja. Harga barang yang dijual melalui e-commerce  biasanya lebih murah daripada  harga di toko, karena jalur distribusi barang dari produsen kepenjual lebih singkat dibandingkan dengan toko konvensional.

Online shopping memberikan banyak kemudahan dan kelebihan dibandingkan dengan cara belanja konvensional. Selain waktu belanja lebih singkat, di internet tersedia berbagai macam barang yang dijual secara lengkap. Informasi mengenai barang tersebut juga tersedia, sehingga walaupun tidak membelinya secara online, seseorang dapat memperoleh  informasi  yang diperlukan untuk memilih produk yang akan dibeli (Rufaida: 2007).

E-commerce dapat diterapkan dalam kegiatan bisnis perpustakaan. Purbo (2005) dalam Rufaida (2007) menyatakan bahwa transaksi pada e-commerce bukan hanya transaksi barang dan uang, tetapi juga transaksi informasi, pengetahuan, dan jasa. Dalam hal ini perpustakaan dapat memanfaatkan e-commerce untuk mengkomersialkan layanan perpustakaan seperti peminjaman antarperpustakaan (interlibrary loan), penelusuran terpasang (online), layanan referensi, bibliografi, salinan bahan, dan jasa kesiagaan informasi.

Transaksi tersebut bukan tidak mungkin dapat memberikan nilai tambah bagi perpustakaan. Selain sebagai sarana promosi perpustakaan, transaksi juga menghasilkan keuntungan yang dapat meningkatkan kesejahteraan dan kinerja petugas perpustakaan dan pustakawan.

Oppenheim (2004) mengatakan bahwa sejak informasi menjadi kunci sukses suatu bisnis, dan para manajer mau membayar ketika membutuhkannya. Oleh karenanya penggiat informasi saat ini mempunyai peran yang sangat besar dalam mengembangkan potensinya di dunia bisnis informasi.

Model bisnis informasi yang dimaksud disini tidaklah kemudian sama dengan model bisnis pada umumnya, tapi lebih pada jasa penelusuran informasi. Perpustakaan tidak boleh menjual konten informasi sebab kalo konten informasi yang diperjual belikan maka ia akan lepas dari visi, misi tujuan perpustakaan didirikan, dan akan sangat bersinggungan dengan pelanggaran hukum tentang hak kekayaan intelektual.

Potensi bisnis informasi pada layanan e-commerce ini mempunyai banyak keunggulan mulai baik bagi pembeli maupun penjual dari pasarnya sangat tak terbatas, tidak takut delay, informasi dapat langsung diakses dan yang jelas jauh lebih murah karena hanya membayar jasa penelusurannya saja.

Karakteristik E-Comerce
Wira dalam Iman (2005) menyatakan bahwa transaksi dalam e-commerce memiliki karakteristik yang sangat khusus, yaitu: 
  1. Transaksi tanpa batas; pengusaha dapat memasarkan produknya ke seluruh pelosok dunia           hanya dengan membuat situs web atau memasang iklan di situs internet, dan pelanggan dapat mengakses dan melakukan transaksi secara online tanpa dibatasi waktu; 
  2. Transaksi anonim, yaitu penjual dan pembeli tidak perlu bertemu muka satu sama lain;
  3. Produk digital dan nondigital; produk yang bersifat digital dapat dipasarkan melalui internet dengan cara mendownload, sedangkan produk nondigital dikirim secara langsung; 
  4. Produk barang tak berwujud; banyak perusahaan yang menawarkan barang tak berwujud seperti data, informasi, perangkat lunak serta ide atau gagasan melalui internet.
Dalam layanan e-commerce informasi harus diolah dan pengolahannya tentu berbeda dengan model pengolahan layanan yang ada diperpustakaan yang dilayankan secara offline, proses pengolahan layanan e-commerce merupakan tindak lanjut setelah pengetahuan tersebut dikumpulkan.

Pengolahan mencakup proses digitalisasi, pembuatan metadata, dan uploading hasil pengolahan ke dalam  web. Digitalisasi meliputi scanning, yaitu memindahkan dokumen tercetak ke dalam bentuk digital. Untuk membuka peluang pengguna mengakses informasi  seoptimal mungkin, maka berkas dibuat dalam format pdf teks, sehingga dapat ditelusur dengan mudah oleh pengguna.

Konversi dilakukan jika dokumen sudah dalam bentuk elektronis (softcopy). Konversi dimaksudkan untuk menyamakan format dan mengatur penamaan  file dan pembuatan metadata dilakukan untuk keperluan penelusuran berbasis web , yaitu dengan membuat data bibliografi yang meliputi nama penulis, judul abstrak, kata kunci, tahun terbit, dan nama jurnal. 


SIMPULAN
Perpustakaan saat ini mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam meyediakan layanan informasi kepada pengguna, baik secara online maupun offline, perpustakaan yang memberikan pelayanan informasi secara online mempunyai kesempatan mengoptimalkan layanan e-commerce kepada pengguna, dan apabila layanan e-commerce dapat berjalan dengan maksimal maka secara lambat laun perpustakaan akan bisa mandiri dalam pendanaan.
Hal penting dari layanan e-commerce informasi ini adalah besarnya pasar yang  menjadi sasaran bisnis ini, tidak berisiko, dan tidak rugi secara material karena tidak ada barang yang di keluarkan, pengguna hanya mendownloud atau dikirim via email terkait informasi yang dipesan.
Oleh karena itu pengemasan informasi yang dapat menarik pengguna untuk menggunakan jasa ecommers ini merupakan suatu tantangan bagi pustakawan untuk selalu melakukan inovasi dan kreasinya agar layanan tersebut banyak digemari orang. 

Daftar Bacaan
Diamond, Wendy dan Michael R. Oppenheim. 2004.  Marketing information : a strategic guide foe business and finance library.

Rufaidah, Vivit Wardah. (2007) KNOWLEDGE COMMERCE: Peluang Implementasinya di Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. Jurnal Pertanian Perpustakaan  Vol.16. no 02 http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/pp162072.pdf Akses 05 Februari 2014

Elvina, Irma. (t.t). Membisniskan Layanan Perpustakaan Menggunakan e-commerce. Jurnal Pustakawan Indonesia Volume 10 No. 2 http://journal.ipb.ac.id/index.php/jpi/article/.../5278/3693 Akses 05 Februari 2014